MENGAPA MANUSIA SULIT TENTERAM
Meski Rajin Ibadah dan Banyak Belajar Spiritual
Artikel, Inner Core™ Character Building, Spiritualitas dan Energi
Seri Artikel Inner Core – Kawruh Jiwa (1)
Oleh : M. Nur Mauliduddin
Banyak orang hari ini rajin beribadah. Shalat tidak ditinggalkan, dzikir dilazimkan, pengajian diikuti, buku-buku spiritual dibaca, bahkan berbagai pelatihan pengembangan diri dan kesadaran batin dijalani. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang masih merasa gelisah, mudah tersinggung, cepat kecewa, dan lelah secara batin. Hati terasa penuh, pikiran ramai, dan hidup seolah terus dikejar oleh tuntutan yang tidak pernah selesai.
Pertanyaannya sederhana, namun sangat mendalam: Mengapa ketenteraman sulit dirasakan, padahal jalan-jalan kebaikan sudah ditempuh?
Dalam Islam, ketenteraman bukan hal asing. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan:
“Alaa bidzikrillāhi tathma’innul qulūb” (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.) – (QS. Ar-Ra’d: 28)
Namun realitas hidup sering menunjukkan hal yang paradoks. Dzikir dilakukan, tetapi hati tetap resah. Doa dipanjatkan, tetapi batin masih menuntut. Ibadah dijalankan, tetapi emosi mudah meledak. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menyalahkan ibadah, melainkan untuk bercermin dengan jujur ke dalam diri.
Masalahnya Bukan pada Ibadah, tetapi pada Jiwa yang Tidak Dipahami
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa ibadah adalah sekadar gerakan lahir. Allah berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” – (QS. Al-Mu’minun: 1–2)
Kata khusyuk menunjuk pada keadaan batin, bukan sekadar ketepatan gerakan. Artinya, ibadah akan memberi dampak ketenteraman sejauh jiwa ikut hadir dan sadar.
Di sinilah letak persoalan banyak manusia modern: mereka beribadah, tetapi tidak mengenal jiwa mereka sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Masalah kegelisahan batin bukan karena kurang ibadah, melainkan karena hati dan jiwa dibiarkan bekerja secara otomatis, dipenuhi dorongan, keinginan, tuntutan, dan pembelaan diri yang tidak pernah disadari.
Ketika Spiritualitas Menjadi Proyek Ego
Tanpa disadari, spiritualitas sering berubah menjadi proyek keakuan. Seseorang rajin beribadah bukan lagi semata karena Allah, tetapi karena ingin:
- merasa lebih baik dari sebelumnya
- merasa lebih tenang dari orang lain
- merasa lebih benar, lebih sadar, lebih saleh
- merasa pantas mendapatkan hasil tertentu dari Allah
Di sinilah ibadah dan spiritualitas masih dibajak oleh “aku”.
Dalam bahasa tasawuf, ini adalah nafs yang menyusup ke amal. Dalam kerangka Kawruh Jiwa, ini disebut kramadangsa—keakuan psikologis yang selalu ingin dipuaskan, bahkan lewat jalan yang tampak suci.
Allah mengingatkan dengan sangat jelas:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Hawa nafsu tidak selalu hadir dalam bentuk dosa kasar. Ia bisa tampil halus, berwajah ibadah, berbahasa agama, dan berpenampilan saleh—namun tetap menuntut: harus begini, harus berhasil, harus diakui, harus cepat terkabul.
Akar Kegelisahan: Hati yang Terus Menuntut
Ketenteraman hilang bukan karena ujian hidup, tetapi karena hati menuntut hidup sesuai kehendaknya. Ketika doa belum terkabul, muncul kecewa. Ketika usaha belum berhasil, muncul gelisah. Ketika tidak dihargai, muncul luka. Ketika disalahpahami, muncul amarah.
Padahal Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi pendidikan jiwa: bahwa ketenteraman tidak lahir dari terpenuhinya keinginan, melainkan dari keikhlasan hati menerima ketetapan Allah tanpa tuntutan tersembunyi.
Namun ikhlas sering disalahpahami sebagai ucapan, bukan keadaan batin. Banyak orang berkata “saya ikhlas”, tetapi di dalam hatinya masih berharap hasil tertentu. Inilah yang membuat batin terus tegang.
Kawruh Jiwa: Membantu Mengenali Gerak Jiwa Tanpa Menyalahkan
Di sinilah ajaran Kawruh Jiwa menjadi sangat relevan bagi seorang Muslim. Kawruh Jiwa bukan agama, bukan akidah, dan bukan pengganti wahyu. Ia adalah ilmu memahami mekanisme jiwa, agar hati tidak terus dikuasai oleh dorongan nafs dan keakuan yang halus.
Kawruh Jiwa mengajarkan satu hal mendasar:
- lihat rasa sebelum bereaksi
- kenali keinginan sebelum menuntut
- sadari keakuan sebelum membela diri
Ini selaras dengan ajaran muhasabah dalam Islam. Umar bin Khattab r.a. berkata:
“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”
Menghisab diri bukan menghakimi diri, tetapi menyadari gerak hati dengan jujur.
Mengapa Artikel Ini Penting untuk Perjalanan Iman
Artikel ini bukan untuk meragukan ibadah, melainkan untuk memurnikannya. Bukan untuk melemahkan semangat spiritual, tetapi untuk membersihkan niatnya. Karena selama jiwa tidak dikenali, ibadah mudah menjadi rutinitas lahir, dan spiritualitas mudah menjadi topeng ego.
Ketenteraman sejati (ṭuma’nīnah) bukan hasil paksaan batin, bukan pula hadiah instan. Ia adalah buah dari jiwa yang jujur, hati yang sadar, dan penyerahan diri yang utuh kepada Allah.
Dan itulah yang akan kita telusuri bertahap dalam serial ini.
Penutup
Jika hari ini Anda merasa:
- rajin ibadah tapi hati belum tenang
- ingin pasrah tapi masih gelisah
- ingin dekat dengan Allah tapi batin ramai
maka kemungkinan besar masalahnya bukan pada iman Anda, melainkan pada jiwa yang belum Anda pahami sepenuhnya.
Pada artikel berikutnya, kita akan masuk lebih dalam membahas:
Apa itu Kawruh Jiwa, dan mengapa ia selaras dengan jalan muhasabah dan tazkiyatun nafs dalam Islam.
